Laman

Senin, 12 Desember 2011

AKURASI ANTARA MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI) DAN USG TRANSVAGINAL DALAM DIAGNOSIS, PEMETAAN DAN PENGUKURAN MIOMA UTERI

Dengan adanya era baru mengenai invasi minimal dalam pengobatan mioma menyebabkan evaluasi yang tepat terhadap posisi, ukuran dan jumlah mioma sebagai isu yang sangat penting dan sangat berhubungan. Pemetaan yang tepat dari mioma penting untuk dipertimbangkan dalam terapi embolisasi mioma, pengobatan dengan analog gonadotropin releasing hormone (GnRH) atau pengangkatan selektif sebagian dari mioma. Jumlah dan lokasi mioma dan ukurannya menentukan tingkat kesulitan operasi dan mempengaruhi angka kegagalan. Evaluasi preoperatif yang tepat sangat diperlukan untuk memfasilitasi pilihan pendekatan yang optimal, apakah dengan laparaskopik, histereskopik atau abdominal. 1
Ultrasonografi transvaginal, sebagai teknik pencitraan tradisional, telah memberikan hasil visualisasi dari uterus dan adnexa yang lebih baik daripada ultrasonografi abdominal. Penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan ultrasonografi (USG) untuk mendeteksi mioma submukosa dan kegunaannya dalam memonitor mioma yang mendapat terapi analog gonadotropin releasing hormone (GnRH). Sedangkan Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah teknik pencitraan modern dengan kemampuan diagnostik tinggi terhadap pencitraan mioma. Dan telah disarankan sebagai metode terpilih untuk evaluasi mioma secara tepat.2 . Bagaimanapun MRI adalah teknik yang mahal, sehingga kepentingan penggunaannya  terutama pada  situasi yang sangat terbatas, apabila mioma tidak dapat jelas tergambar dengan ultrasonografi transvaginal.

RISK OF MALIGNANCY INDEX IN PREOPERATIVE EVALUATION OF CLINICALLY RESTRICTED OVARIAN CANCER

Ovarian cancer remains the third most frequent gynecological neoplasm and corresponds to the highest mortality rate in developed countries. In Brazil, according to Datasus files, the incidence of malignant ovarian tumors was reported to be 3.6 per 100,000 women in 1998, resulting in 1830 deaths in the same year. A worse prognosis is correlated with late diagnosis. Up to 70% of the cases are detected at advanced stages, with increased ovarian disease, in which the mortality rate reaches 70% within two years and 90% within five years, which has encouraged research into ovarian cancer screening methods.

Selasa, 06 Desember 2011

Vaginal Birth After Caesarean Section (VBAC) Persalinan Normal Dengan Riwayat SC


Seksio sesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan  janin dengan pembedahan dinding perut (laparatomi) dan dinding uterus (histerotomi). Definisi ini tidak termasuk pengangkatan fetus dari dalam rongga abdomen pada kasus-kasus ruptura uteri atau pada kasus kehamilan abdominal.  Dewasa ini tindakan ini jauh lebih aman dari pada dahulu berhubung sudah tersedia obat antibiotika, transfusi darah, teknik operasi yang lebih sempurna dan anastesi yang sudah baik.
Sekarang ini ada kecendrungan untuk melakukan seksio sesarea tanpa dasar yang cukup kuat.   Perlu diingat bahwa seorang ibu yang telah mengalami seksio sesarea merupakan seseorang yang mempunyai parut dalam uterus dan tiap kehamilan serta persalinan berikutnya memerlukan pengawasan yang lebih cermat.

Rabu, 30 November 2011

EFEK REPRODUKSI PADA PENYAKIT TROPOBLAS GANAS SETELAH KEMOTERAPI ( Diagnosis and Management of Gestational Tropoblastic Neoplasia )


Penyakit Tropoblas gestasional terdiri dari beberapa tipe penyakit dengan pola invasif dan metastase. Penyakit ini meliputi: mola parsial, mola komplet, mola invasif dan koriokarsinoma. Penyakit Tropoblas Ganas (PTG), adalah penyakit tropoblas pada kehamilan yang membutuhkan kemoterapi, yang meliputi mola invasif dan koriokarsinoma.
Penyakit tropoblas ganas paling sering terjadi setelah kehamilan mola, tetapi mungkin juga timbul pada semua kehamilan. Insidensi terbesar penyakit ini terdapat di India dan Indonesia yaitu antara 15,3-19,1/1000 kehamilan, dan insidensi paling rendah di Amerika Utara, Eropa dan Oceania yaitu antara 0,2 dan 0,7/1000 kehamilan. Kehamilan mola sebelumnya merupakan predisposisi untuk menjadi Penyakit Tropoblas ganas dengan kemungkinan sebesar 20%, yang kemudian akan mendapatkan kemoterapi. Dibandingkan dengan kehamilan biasa , kehamilan mola meningkatkan risiko menjadi penyakit tropoblas ganas sebesar 1000 kali(3).

PEMBERIAN SUPLEMEN PADA MASA KEHAMILAN

Pada sebuiah studi di Rural Nepal, menunjukkan pelayanan prenatal, intrapartum dan postpartum yang jelek pada wanita yang melahirkan dirumah, diungkapkan supplement dengan asam folat-iron dapat mengurangi 40 % risiko perdarahan intrapartum.Mekanisme zat besi dapat menurunkan perdarahan intrapartum belum dimengerti, tetapi anemia berat dihubungkan dengan hilangnya kontraksi uterus. Penyebab utama perdarahan postpartum termasuk atonia uteri, retensi plasenta dan trauma. DI Rural Nepal risiko tinggi anemia defisiensi besi menurun signifikan dengan pemberian supplement besi. Data sebelumnya menunjukkan bahwa supplement asam folat – besi dan multipel mikronutrient   meningkatkan berat lahir tetpai juga dapat meningkatkan risiko bayi besar. Saat ini idak ada kombinasi supplement yang menyebabkan morbiditas pada neonatal, namun supplement multiple mikronutrient signifikan meningkatkan risiko lahir asfiksia. Analisi yang ada menunjukkan peningkatan 28 % pada persalinan patofisiologis oleh karena supplement multiple mikronutrient selama prenatal  juga meningkatkan risiko bayi besar. Kombinasi supplement yang mengandung besi dengan atau tanpa zinc ataumikronutrient lain berhubungan signifikan dengan berkurangnya gejala sepsis pada nifas. Sebelumnya supplement vitamin A dan zinc menunjukkan berkurangnya demam. Defisiensi  besi dan mikronutrient lain berperan penting dalam mengurangi sepsis pada nifas belum diketahui. Suplement multiple mikronutrient signifikan mengurangi risiko KPD preterm. Antioksidan termasuk vitamin E dan C dalam supplement berperan penting dalam KPD preterm adalah berhubungan dengan stress oksidatif dan menghancurkan radikal bebas. Penggunaan multivitamin dapat mengurangi risiko kelahiran preterm sebelum 34 minggu dan  mengurangi risiko SGA atau KMK (<precentil 5).

VAGINOPLASTI ( REKONSTRUKSI GENITAL ) PADA WANITA PSEUDOHERMAFRODIT "FEMINIZING RECONSTRUCTION IN PSEUDOHEMAFRODIT "


Pendahuluan
        Rekontruksi genital yang dilakukan untuk membentuk vagina telah dilakukan sejak beberapa ratus tahun yang lalu dan saat ini terdapat banyak teknik yang digunakan termasuk metode dilatasi tanpa pembedahan. Teknik laparoskopi yang baru mungkin akan menggantikan teknik lama, tetapi belum ada yang mengevaluasi secara keseluruhan mengenai luaran anatomi, seksual, psikologi dan risiko komplikasi. Khususnya vaginoplasti , indikasi dan teknik yang digunakan saat ini untuk pelebaran vagina termasuk dilatasi vagina pada female pseudohermafrodit akan dibahas. Kesimpulan ringkas mengenai literatur berbagai luaran dan diskusi mengenai kontroversi dari indikasi vaginoplasti dan waktu untuk melakukannya juga dipaparkan.
. Beberapa kelompok pendukung pasien mengemukakan ketidakpuasan terhadap tindakan bedah saat ini dan mencari teknik yang kurang invasive dan lebih memuaskan. Perdebatan saat ini berfokus pada pasien seperti indikasi dilakukannya operasi dan waktu untuk melakukannya.

INTRAUTERINE INFECTION AND PRETERM DELIVERY ( INFEKSI DALAM RAHIM DAN PERSALINAN PREMATUR)

Persalinan preterm  kejadiannya masih tinggi, baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang dan bayi kurang bulan merupakan penyumbang tertinggi terhadap angka kematian bayi baru lahir. Rata-rata angka kejadian persalinan preterm 5%-8% dari keseluruhan kelahiran dan 80% penyebab kematian dari semua kematian neonatal. Pencegahan persalinan preterm umumnya sulit dan tidak efektif. Antara lain karena etiologinya multifaktor seperti: status sosial ekonomi, nutrisi, konstitusi, imunologi dan mikrobiologi disamping penyebab yang terkait dengan komplikasi obstetri (pendarahan anterpartum, hipertensi pada kehamilan atau komplikasi medis lainnya). Faktor risiko yang lain mungkin karena : ketuban pecah dini, persalinan preterm sebelumnya, ras kulit hitam dan umur ibu hamil lebih dari 30 tahun.
            Salah satu penyebab kejadian persalinan preterm adalah infeksi.  Berbagai program dan terapi telah diterapkan untuk mengurangi kejadian persalinan preterm. Banyak penelitian yang mengaitkan kejadian persalinan preterm dengan infeksi, terutama karioamnioitis pada kejadian ketuban pecah dini. KPD meningkatkan risiko bayi terinfeksi, sehingga memperberat masalah kurang bulannya (ketidakmatangan paru, hipotermi, sindrom gawat nafas dan lain-lain). KPD atau karioamnioitis tanpa KPD sering dihubungkan dengan infeksi urogenital. Infeksi bakterial adalah salah satu dari jenis penyebab infeksi urogenital yang dapat menyebabkan persalinan preterm. Infeksi bakteri masuk ke dalam uterus dapat terjadi antara ibu dan bayi (choriodecidual space) ke dalam selaput ketuban (amnion dan karion), plasenta, cairan amnion, tali pusat atan fetus.